Senin, 01 September 2008

Renungan Hati

Bulan Ramadhan menyisakan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Dimana orang ramai-ramai menutup kegiatan kemaksiatan seperti Club Malam, tempat-tempat Karaoke, Diskotik, dan tempat-tempat sejenisnya. Aneh nya mengapa tempat-tempat seperti itu hanya ditutup sementara saja tidak untuk selamanya???? Biar bagaimana pun kemaksiatan dilarang dalam agama mana pun, terlebih ditempat-tempat tersebut sering kali terjadi peredaran narkotika, pelacuran alias esek-esek bahkan tidak sedikit anak usia dibawah umur disediakan untuk melayani nafsu sang hidung belang.

Fenomena tersebut di kota-kota besar sudah menjadi lumrah, bahkan tidak sedikit kalangan masyarakat dari berbagaimacam kelas menyambangi tempat-tempat maksiat tersebut. Bahkan seperti diskotik sudah menjadi rumah kedua bagi mereka didalam kehidupan sehari-harinya. Mabuk-mabukan serta ber dugem ria telah menjadi santapan setiap malamnya. Padahal mereka tidak seidkit merogoh kocek untuk menikmati itu semua. Hal tersebut merasa gampang mereka keluarkan demi kepuasaan sesaat.

Jika masyarakat yang berduit tersebut sadar bahwa, menghambur-hamburkan uang demi kepuasan sesaat itu akan menyengsarakan mereka, masih banyak kaum miskin yang membutuhkan bantuan. Jika dilihat, kalangan tersebut gampang sekali memberi uang untuk para pelacur dibandingkan kaum fakir miskin yang jelas-jelas wajib dibantu.

Maka wajar, jika musibah di negara kita ini semakin hari semakin menjadi karena hilangnya rasa bersyukur. Jika masyarakat kita senantiasa bersyukur menjadikan landasan hidupnya maka kesejahteraan akan dicapai.

Lihat kembali, tidak saja dari kalangan masyarakat yang berduit yang melakukan hura-hura, kalangan pemerintah tidak sedikit yang menjadi langganan. Kasus video mesum yang menimpah para pejabat terus berulang baik dipusat maupun daerah, korupsi menjadi santapan sehari-hari. Mereka terlihat sama sekali tidak jera, bahkan terkesan jika mereka seolah-olah tidak bersalah. Memakan uang rakyat dianggap wajar dan lumrah, padahal mereka bisa duduk dikursi yang empuk tersebut karena rakyat.

Jika kita terus berbicara akan kecarut marutan di negara kita ini tidak akan ada habisnya. Selama masyarakatnya tidak mau ber taubat dan berpegang teguh pada agama. Para pejabat juga manusia bukan dewa, maka mereka sama dengan kita……

Tidak ada komentar: