Kamis, 04 September 2008

Hidrosepalus


Penyakit dapat hinggap kepada siapapun, baik orang kaya maupun orang miskin. namun penyakit tersebut terkadang dapat memiriskan hati sipenderita maupun keluarganya jika mereka orang miskin dan mendapatkan penyakit yang terbilang ganas dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit alias butuh biaya banyak... seperti yang terjadi pada keluarga Pasutri, Zahari dan Eliyati.
Derita Vinda Elza Rinata, bayi berusia 8 bulan sungguh memprihatinkan. Saat usia 3 bulan lalu, kepala anak pedagang bakso tusuk keliling asal Blok Sarimulya, Desa Temiyangsari, Kecamatan Kroya ini mulai menampakkan gejala berbeda, yakni semakin membesarnya kepala. Saat ini, anak dari pasutri Zahari (28) dan Eliyati (22) itu dirawat intensif di RSUD Indramayu. Vinda sendiri memiliki kembaran yang bernama Vindy Elza Rinata, namun kembarannya tersebut dalam kondisi sehat. Diceritakan Zahari, sejak kelahirannya pada 18 Desember 2007 secara premature, berat badan Vinda hanya 1,2 kg. Saat dilahirkan dalam kondisi sehat secara lahir, namun menginjak usia 5 bulan kepala bayi tersebut nampak membesar hingga saat ini. Ketika diperiksa ke puskesmas terdekat, oleh seorang bidan dikatakan bahwa Vinda terkena penyakit hidrosepalus, dan harus segera dirujuk ke rumah sakit dengan penanganan dokter khusus.
Untuk menyembuhkan penyakit anaknya tersebut, Vinda harus menjalani operasi yang biayanya tentu saja tidak sedikit. Sementara sang ayah tidak mungkin mampu. 
“Untuk makan sehari-hari saja kami masih serba kekurangan. Namun kami bertekad mengumpulkan uang untuk berobat, tetapi semakin hari kepala Vinda semakin besar, sehingga membuat kami khawatir. Kami berusaha meminta keterangan kepala desa, puskesmas serta kecamatan untuk memperoleh keterangan surat tidak mampu, agar bisa berobat ke rumah sakit. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan saat ini anak kami sedang menunggu perawatan lebih lanjut,” kata Zahari. 
Menurut keterangan dokter Rumah sakit, Vinda seharusnya sudah diberikan perawatan saat kepalanya belum sebesar saat ini. Namun karena keterlambatan tersebut harus segera dioperasi, sehingga harus dirawat di RS yang memadai.
“Saya berharap kondisi Vinda bisa segera pulih, sebab kami harus cepat bekerja seperti biasa untuk bisa menghidupi anak kembar kami. Kasihan Vindy yang ditinggal bersama kakeknya. Tetapi kami juga sedikit lega dengan upaya pemerintah, baik desa, kecamatan, dokter maupun dinas kesehatan yang sudah memberikan keringanan dalam menghadapi situasi seperti ini. Kami juga berharap semoga anak kami bisa cepat sembuh dan hidup normal,” harapnya. (alw)
Kisah ini sudah dipublikasikan pada Harian Umum Radar Indramayu, edisi Kamis (4/9) Hal 1.
bagi yang merasa ingin membantu hubungi : Amin - 085292842327 or klik http://alwy82.blogspot.com

Senin, 01 September 2008

Hilangnya Mitan dipasaran

Mitan Hampir Punah
Gas Selalu Terlambat Datang


LANGKA nya minyak tanah (mitan.red) saat ini membuat kawatir kebanyakan orang, karena selain adanya konversi gas, mitan juga masih menjadi kebutuhan warga dalam memasak. Langka nya mitan disebabkan dikuranginya alokasi pengiriman hampir 75 persen perbulannya, dengan telah dilakukannya konversi gas.

Masudin, salah satu pengamatan ekonomi masyarakat Pantura yang selalu intens memantau peredaran mitan ataupun gas, mengatakan bahwa kelangkaan mitan yang terjadi sebenarnya sedari awal sudah diberitahukan akan adanya pengurangan mitan dengan adanya konversi gas. Namun, masyarakat belum terlalu siap menghadapinya terbukti ketika mitan langka, reaksi selalu muncul kepermukaan.

“saya rasa seharusnya pengurangan tersebut harus diimbangi dengan penjelasan yang lebih dari pihak yang berwenang dalam masalah mitan kepada masyarakat, sehingga jika terjadi seperti saat ini, masyarakat sudah tidak terlalu kaget dan merasa kehilangan terlebih mereka sudah mendapatkan gas yang dibagikan sebagai pengganti mitan” ujar Masudin.

Lebih lanjut, Masudin menjelaskan bahwa pengiriman mitan yang pada awlanya 59 tangki untuk satu area perhari, tetapi saat ini hanya 1 tangki perhari. Dengan hal tersebut, untuk mengatasai masalah kelangkaan mitan tentu para agen gas 3 kg dapat serta mampu meningkatkan pelayanan gas 3 kg. sebab, kelihatannya para agen masih belum siap untuk menyalurkan lpg 3 kg nya dengan maksimal. Terbuktinya dilapangan masih seringnya terjadi lambatnya pengiriman, begitu pula dengan SPBE Pertamina Balongan dapat meningkatkan pengisian tabung gas. Termasuk para agen meambah armada angkutan bafer stock gas digudangnya masing-masing, yang konon sementara ini belum memiliki stok persediaan di gudang agen untuk mengantisipasi seperti keadaan saat ini.

“dengan hampir punah nya mitan dimasyarakat tentu saja masyarakat mau tidak mau beralih kepada gas 3 kg yang masih terbilang murah dibandingkan gas 15 kg. maka, saya menekankan kepada para agen diharapkan bisa memberikan pelayanan terhadap konsumen dengan selalu tersedianya gas tanpa harus menunggu lama dengan alasan keterlambatan. Jika dibiarkan maka akan semakin parah dan masyarakat menjadi korbannya” tegasnya. (alw)

Dipublikasikan : Radar Indramayu, edisi Sabtu (30/8) Hal. 4 - Kota Mangga

Renungan Hati

Bulan Ramadhan menyisakan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Dimana orang ramai-ramai menutup kegiatan kemaksiatan seperti Club Malam, tempat-tempat Karaoke, Diskotik, dan tempat-tempat sejenisnya. Aneh nya mengapa tempat-tempat seperti itu hanya ditutup sementara saja tidak untuk selamanya???? Biar bagaimana pun kemaksiatan dilarang dalam agama mana pun, terlebih ditempat-tempat tersebut sering kali terjadi peredaran narkotika, pelacuran alias esek-esek bahkan tidak sedikit anak usia dibawah umur disediakan untuk melayani nafsu sang hidung belang.

Fenomena tersebut di kota-kota besar sudah menjadi lumrah, bahkan tidak sedikit kalangan masyarakat dari berbagaimacam kelas menyambangi tempat-tempat maksiat tersebut. Bahkan seperti diskotik sudah menjadi rumah kedua bagi mereka didalam kehidupan sehari-harinya. Mabuk-mabukan serta ber dugem ria telah menjadi santapan setiap malamnya. Padahal mereka tidak seidkit merogoh kocek untuk menikmati itu semua. Hal tersebut merasa gampang mereka keluarkan demi kepuasaan sesaat.

Jika masyarakat yang berduit tersebut sadar bahwa, menghambur-hamburkan uang demi kepuasan sesaat itu akan menyengsarakan mereka, masih banyak kaum miskin yang membutuhkan bantuan. Jika dilihat, kalangan tersebut gampang sekali memberi uang untuk para pelacur dibandingkan kaum fakir miskin yang jelas-jelas wajib dibantu.

Maka wajar, jika musibah di negara kita ini semakin hari semakin menjadi karena hilangnya rasa bersyukur. Jika masyarakat kita senantiasa bersyukur menjadikan landasan hidupnya maka kesejahteraan akan dicapai.

Lihat kembali, tidak saja dari kalangan masyarakat yang berduit yang melakukan hura-hura, kalangan pemerintah tidak sedikit yang menjadi langganan. Kasus video mesum yang menimpah para pejabat terus berulang baik dipusat maupun daerah, korupsi menjadi santapan sehari-hari. Mereka terlihat sama sekali tidak jera, bahkan terkesan jika mereka seolah-olah tidak bersalah. Memakan uang rakyat dianggap wajar dan lumrah, padahal mereka bisa duduk dikursi yang empuk tersebut karena rakyat.

Jika kita terus berbicara akan kecarut marutan di negara kita ini tidak akan ada habisnya. Selama masyarakatnya tidak mau ber taubat dan berpegang teguh pada agama. Para pejabat juga manusia bukan dewa, maka mereka sama dengan kita……

Sambut Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN....


Memasuki bulan Ramadhan 1429 H, mengantongi berbagai fenomena di masyarakat. Jika kita lihat secara nyata bahwa masyarakat cenderung sibuk dengan mempersiapkan kebutuhan perut dibandingkan kebutuhan hati. Masyarakat rela antri berjam-jam diberbagai pusat perbelanjaan demi mendapatkan kebutuhan makanan ketimbang mempersiapkan hati untuk menjalankan Ibadah puasa yang suci.

Selain itu juga, masyarakat terlalu sibuk dengan mempersoalkan harga yang semakin naik ditengah kondisi yang sedikit mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, Minyak tanah mengalami kelangkaan dimana-mana, gas cenderung naik tajam ketimbang turun. Sehingga masyarakat kecil senantiasa beralih kembali ke kayu bakar. Pemerintah Indonesia lebih sibuk mengurusi kebutuhan sendirinya daripada kebutuhan rakyatnya, begitupun wakil rakyat sibuk dengan parpol-nya.

Pemerintahan Indonesia semangat membangun demi sebuah kata “Negara Maju” untuk meninggalkan “Negara Berkembang”. Tetapi bagimana bisa menjadi negara maju jika rakyatnya kembali ke zaman dahulu. Sangat ironis memang jika kita melihat kenyataan yang ada saat ini.

Di bulan yang penuh barokah dan berjuta-juta pahala ini, seyogyanyalah kita sebagai umat muslim senantiasa melihat lingkungan yang ada. Ketika kita asyik berpuasa dan beribadah namun disisi lain masih banyak orang yang kelaparan sehingga mereka sibuk mencari uang demi sesuap nasi, apakah ibadah puasa ini akan sempurna jika kita hanya berdiam saja…. Puasa tidak saja menahan lapar serta nafsu, tetapi Puasa mengajarkan kita untuk lebih perduli kepada sesama…

Entah apa lagi yang bisa perbuat ….